Pura Agung Pulaki adalah salah satu pura
di Bali yang memiliki aura religius dipadukan dengan keindahan alam yang
menakjubkan. Lokasinya sangat menarik karena berada di atas tebing
berbatu yang menghadap langsung ke laut dengan latar belakang bukit
berbatu terjal. Pura suci ini terletak di Desa Banyupoh, Kecamatan
Gerokgak, Buleleng, Bali. Tempat ini bisa dijangkau dengan mudah karena
lokasinya cukup strategis yakni berada di pinggir Jalan Raya
Singaraja-Gilimanuk.
Pura ini kerap disinggahi umat Hindu Bali
yang hendak bersembahyang saat kebetulan melewati Gilimanuk menuju
Singaraja atau sebaliknya. Pura Pulaki yang letaknya tidak bagitu jauh
dari Pura Melanting dianggap sebagai predana-purusa atau
sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi. Tak jarang,
kebanyakan orang yang datang ke pura ini adalah pedagang atau pengusaha.
Penyungsung pura ini terdiri dari 42 desa
adat dan desa lainnya yang berada di Kecamatan Gerokgak dan Seririt.
Pura Pulaki disebut-sebut sebagai pusat pura Melanting di Bali, dengan
enam Pura Pesanakannya, yaitu Pura Melanting, Pura Pegaluhan, Pura
Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Taman, dan Pura Pemuteran. Keenam pura
tersebut terletak berdekatan dengan Pura Pulaki.
Di Pura Pulaki yang teramat dijaga
kesuciannya ini terdapat tempat yang tidak boleh sembarangan orang
memasukinya, sekalipun ia seorang pemangku adat. Tempat itu adalah
pelinggih utama yang disebut dengan Utamaning Mandala. Demi
menjaga kesuciannya, tempat ini harus bebas dari cakar atau injakan
kaki. Baru bisa dimasuki hanya pada acara atau upacara khusus saja,
semisal upacara ngeteg linggih maka pelinggih utama tersebut boleh
dimasuki. Pura ini juga dipercaya merupakan warisan zaman prasejarah,
hal; ini bisa dilihat dari tata letak dan struktur pura yang identik
dengan bentuk bangunan sarana pemujaan masyarakat prasejarah. Dugaan ini
diperkuat dengan ditemukannya beberapa alat perkakas yang terbuat dari
batu berbentuk batu picisan, kapak dan benda-benda lainnya pada tahun
1987.
Mengunjungi pura ini saat bulan purnama
akan menyuguhkan pemandangan dan suasana yang berbeda dimana sejumlah
pemeluk agama Hindu Bali akan mengenakan sarung berwarna-warni yang
datang dari berbagai daerah di Bali. Mereka bersembahyang memohon
kemakmuran dan kesejahteraan. Wisatawan yang datang diperkenankan untuk
masuk ke kompleks dengan mematuhi beberapa aturan, diantaranya
mengenakan sarung dan membayar sejumlah donasi yang tak banyak bagi
pura. Saat memasuki pura, berhati-hatilah dengan kera yang banyak
berkeliaran di pura suci ini. Jangan heran, karena Pura Pulaki merupakan
rumah bagi mereka. Pastikan Anda tidak membawa makanan saat masuk ke
dalam dan jagalah barang bawaan Anda dengan baik agar tidak direbut
kera-kera tersebut.
Sebagai pura yang merupakan pusat Pura
Melanting di Bali, pura ini berdekatan dengan pura-pura pesanakannya.
Pura pesanakannya tersebut seolah-olah terletak mengelilingi Pura Agung
Pulaki dengan jarak masing-masing sekitar 1,5 km. Pada saat perayaan
hari ulang tahunnya (odalan), maka keseluruhan lingkungan
pura-pura tersebut merupakan satu kesatuan upacara. Hal ini berarti
setelah melakukan sembahyang dan pemujaan di Pura Pulaki, para jemaat
juga harus bersembahyang dan melakukan pemujaan serta persembahan di
pura-pura pesanakannya.
Dari keenam pura pesanakannya, terdapat
Pura Melanting yang dapat Anda sambangi karena terlihat lebih megah
setelah direnovasi. Berbeda dengan Pura Agung Pulaki yang berada di
pinggir jalan raya. Pura Melanting terletak agak masuk ke dalam,
melintasi hutan-hutan kecil dan rumah-rumah penduduk. Meski begitu
jangan khawatir, jalan masuk menuju pura ini sudah cukup baik dan telah
disediakan lahan parkir yang luas bagi orang yang datang dengan mobil
atau bus.






0 komentar:
Posting Komentar