Kamis, 21 Agustus 2014

Pura di Atas Tebing Berbatu Itu Bernama Pura Pulaki

Pura Agung Pulaki adalah salah satu pura di Bali yang memiliki aura religius dipadukan dengan keindahan alam yang menakjubkan. Lokasinya sangat menarik karena berada di atas tebing berbatu yang menghadap langsung ke laut dengan latar belakang bukit berbatu terjal. Pura suci ini terletak di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Tempat ini bisa dijangkau dengan mudah karena lokasinya cukup strategis yakni berada di pinggir Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk.
Pura ini kerap disinggahi umat Hindu Bali yang hendak bersembahyang saat kebetulan melewati Gilimanuk menuju Singaraja atau sebaliknya. Pura Pulaki yang letaknya tidak bagitu jauh dari Pura Melanting dianggap sebagai predana-purusa atau sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi. Tak jarang, kebanyakan orang yang datang ke pura ini adalah pedagang atau pengusaha.
Pura Pulaki Berada di Atas Tebing Berbatu
Pura Pulaki Berada di Atas Tebing Berbatu
Penyungsung pura ini terdiri dari 42 desa adat dan desa lainnya yang berada di Kecamatan Gerokgak dan Seririt. Pura Pulaki disebut-sebut sebagai pusat pura Melanting di Bali, dengan enam Pura Pesanakannya, yaitu Pura Melanting, Pura Pegaluhan, Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Taman, dan Pura Pemuteran. Keenam pura tersebut terletak berdekatan dengan Pura Pulaki.
Di Pura Pulaki yang teramat dijaga kesuciannya ini terdapat tempat yang tidak boleh sembarangan orang memasukinya, sekalipun ia seorang pemangku adat. Tempat itu adalah pelinggih utama yang disebut dengan Utamaning Mandala. Demi menjaga kesuciannya,  tempat ini harus bebas dari cakar atau injakan kaki. Baru bisa dimasuki hanya pada acara atau upacara khusus saja, semisal upacara ngeteg linggih maka pelinggih utama tersebut boleh dimasuki. Pura ini juga dipercaya merupakan warisan zaman prasejarah, hal; ini bisa dilihat dari tata letak dan struktur pura yang identik dengan bentuk bangunan sarana pemujaan masyarakat prasejarah. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa alat perkakas yang terbuat dari batu berbentuk batu picisan, kapak dan benda-benda lainnya pada tahun 1987.
Mengunjungi pura ini saat bulan purnama akan menyuguhkan pemandangan dan suasana yang berbeda dimana sejumlah pemeluk agama Hindu Bali akan mengenakan sarung berwarna-warni yang datang dari berbagai daerah di Bali. Mereka bersembahyang memohon kemakmuran dan kesejahteraan. Wisatawan yang datang diperkenankan untuk masuk ke kompleks dengan mematuhi beberapa aturan, diantaranya mengenakan sarung dan membayar sejumlah donasi yang tak banyak bagi pura. Saat memasuki pura, berhati-hatilah dengan kera yang banyak berkeliaran di pura suci ini. Jangan heran, karena Pura Pulaki merupakan rumah bagi mereka. Pastikan Anda tidak membawa makanan saat masuk ke dalam dan jagalah barang bawaan Anda dengan baik agar tidak direbut kera-kera tersebut.
Sebagai pura yang merupakan pusat Pura Melanting di Bali, pura ini berdekatan dengan pura-pura pesanakannya. Pura pesanakannya tersebut seolah-olah terletak mengelilingi Pura Agung Pulaki dengan jarak masing-masing sekitar 1,5 km. Pada saat perayaan hari ulang tahunnya (odalan), maka keseluruhan lingkungan pura-pura tersebut merupakan satu kesatuan upacara. Hal ini berarti setelah melakukan sembahyang dan pemujaan di Pura Pulaki, para jemaat juga harus bersembahyang dan melakukan pemujaan serta persembahan di pura-pura pesanakannya.
Pura Pulaki
Pura Pulaki Menjadi Tempat Persembahyangan Umat Hindu Bali
Dari keenam pura pesanakannya, terdapat Pura Melanting yang dapat Anda sambangi karena terlihat lebih megah setelah direnovasi. Berbeda dengan Pura Agung Pulaki yang berada di pinggir jalan raya. Pura Melanting terletak agak masuk ke dalam, melintasi hutan-hutan kecil dan rumah-rumah penduduk. Meski begitu jangan khawatir, jalan masuk menuju pura ini sudah cukup baik dan telah disediakan lahan parkir yang luas bagi orang yang datang dengan mobil atau bus.

0 komentar:

Posting Komentar