Kamis, 21 Agustus 2014

Taman Nasional Bali Barat Tempat Bermukimnya Jalak Bali

Keindahan yang mempesona tertambat di ujung barat Pulau Bali. Rimbunnya hutan lebat, jernihnya air laut, indahnya hamparan pantai, serta pegunungan yang menghijau adalah panorama menakkjubkan yang patut Anda sambangi saat berada di Bali. Di sinilah burung elok jalak bali bermukim, satu-satunya species endemik Pulau Bali yang kini semakin langka.
Burung Jalak Bali Keberadaannya Sudah Semakin Langka
Burung Jalak Bali Keberadaannya Sudah Semakin Langka
Taman Nasional Bali Barat (TNBB) berada di ujung barat Pulau Bali, berjarak 2 km dari Pelabuhan Gilimanuk. Lokasinya berada di 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Buleleng dan Jembrana, Bali. Untuk sampai ke kawasan ini dapat dicapai dengan kendaraan darat dari Denpasar selama 3 jam.
Di sini Anda dapat menikmati beragam jenis flora dan fauna liar, termasuk yang berstatus langka, dilindungi maupun yang keberadaannya masih melimpah. Habitat di taman nasional ini letak geomorfologinya dan keindahan alamnya masih dalam keadaan utuh terjaga. Oleh karena itulah, TNBB merupakan habitat bagi sejumlah hewan dan tumbuhan yang dilindungi.
Taman Nasional Bali Barat (TNBB) adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi. Ekosistem di dalam kawasan TNBB dapat dibilang lengkap dan unik karena merupakan perpaduan dua ekosistem, yaitu darat dan laut. Ekosistem darat meliputi ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, hutan musim, hutan hujan dataran rendah, evergreen, savana, dan ekosistem river rain forest. Sedangkan tipe ekosistem laut meliputi ekosistem coral reef, padang lamun, pantai berpasir, perairan laut dangkal dan perairan laut dalam.
Taman Nasional Bali Barat merupakan salah satu kawasan pelestarian alam dengan ekosistem asli dan merupakan habitat terakhir bagi burung jalak bali. Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati laut seperti terumbu karang dan biota laut, memiliki vegetasi mangrove, hutan rawa payau, savana, serta hutan musim.
Hal yang istimewa dari TNBB adalah menjadi rumah terakhir bagi jalak bali (Leucopsar rothchildi). Hewan cantik ini berkumpul di Semenanjung Prapat Agung, tepatnya Teluk Brumbun dan Teluk Kelor. Burung ini merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali serta dilindungi keberadaannya oleh undang-undang. Penampilan burung ini sangat indah dan salah satu burung yang paling diminati pecinta burung hias. Penyebaran jalak bali hanya meliputi Desa Bubunan sampai ke Gilimanuk, yaitu sekira 320 km².
Dilihat dari sejarah berdirinya TNBB, burung jalak bali dapat dikatakan sebagai salah satu alasan utama dibentuknya taman nasional ini. Bermula pada 24 Maret 1911 saat seorang ahli biologi bernama Dr. Baron Stressman mendarat di sekitar wilayah Singaraja karena kapal Ekspedisi Maluku II yang ditumpanginya mengalami kerusakan. Selama 3 bulan tinggal di wilayah tersebut, Stressman menemukan jalak bali di Desa Bubunan, sekira 50 km dari Singaraja dan mengkategorikannya sebagai spesies burung endemik yang langka dan berbeda dengan jenis lain dari seluruh spesimen.
Taman Nasional Bali Barat
Taman Nasional Bali Barat
Fauna yang menghuni taman nasional ini ada 17 jenis mamalia dan 160 jenis burung (aves), ada pula berbagai jenis reptil dan ikan. Jenis-jenis fauna yang dilindungi di TNBB antara lain adalah jalak bali (Leucopsar rothschildi), trenggiling, kesih (Manis javanicus), jelarang, kapan-kapan (Ratufa bicolor), landak (Hystric branchyura), menjangan (Cervus timorensis), banteng (Bos javanicus), pelanduk, kancil (Trangulus javanicus), biawak (Varanus salvator), penyu rider (Lepidochelys olivceae), dan lain sebagainya.
Flora yang telah diidentifikasi di TNBB ada sekira 176 jenis meliputi pohon, semak, tumbuhan memanjat, menjalar, jenis herba, anggrek, paku-pakuan dan rerumputan. Jenis-jenis flora yang dilindungi di TNBB adalah: bayur (Pterospermum diversifolium), buni (Antidesma buniu), bungur (Langerstroemia speciosa), burahol (Steleochocarpus burahol), cendana (Santalum album), kemiri (Aleuritas moluccana), kepah (Sterculia foetida), kesambi (Schleichera oleosa), kruing bunga (Diptercocaus hasseltii), mundu (Garcinia dulcis, pulai (Alstonia scolaris), sawo kecik (Manilkara kauki), Sono keling (Dalbergia latifolia), dan trengguli (Cassia fistula).

0 komentar:

Posting Komentar